Celurit Madura Asli

KERAJINAN TANGAN MASYARAKAT PEDESAAN 
PERHATIAN...!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
"BARANG INI HANYA UNTUK PAJANGAN DAN KOLEKSI
 KARENA BERUPA ALAT-ALAT DAPUR DAN PUSAKA".
" BUKAN UNTUK HAL-HAL YANG MELANGGAR HUKUM " 
"PENJUAL Tidak Bertanggung jawab atas penggunaan barang yg sudah dibeli, tanggung jawab sepenuhnya ada di tangan BUYER"


 Pisau Dapur Rp 500.000,- (Bahan Full Cakram) 25cm 

Bukti Pengiriman

PEMESANAN Hub.085645330454 (SMS/TLP) -PAK CAHYO
E-mail : promotion.cahyo@gmail.com
Nomer HP :085645330454
Alamat : DESA BETTET - PAMEKASAN - MADURA, JAWATIMUR
SEMUA BAHAN DARI CAKRAM SEPEDA MOTOR & MOBIL.
* * BARANG HARUS PESAN DULU, PEMBUATAN MAKSIMAL 20 HARI, DP 50% DARI HARGA FULL ATAU BISA LANGSUNG DILUNASI* * 


Pisau Eiger Asli Rp 300.000 (20cm)

BEBAS ONGKOS KIRIM
GAGANG CLURIT TIDAK AKAN LEPAS, SILAHKAN LIHAT CONTOH GAMBAR.
NO.1 (besi bilah clurit tembus sampai bawah gagang-jadi gagang tidak akan lepas-sudah dipaten)
NO.2 (bukti gambar-gagang tidak akan lepas atau putus)

NO.3 (HARGA 1.600.000,- PANJANG 60cm) - FULL CAKRAM

NO.4 (HARGA 1.600.000,- PANJANG 60cm) - FULL CAKRAM


NO.5  PISAU KOMANDO (HARGA 1.600.000,- PANJANG 40cm) FULL CAKRAM



NO.6  GOLOK KOMANDO (HARGA 1.600.000,- PANJANG 50cm) FULL CAKRAM
 

NO. 7 (HARGA 500.000,- PANJANG 15cm) - CAKRAM SEPEDA MOTOR
KERAMBIT : 1A
 KERAMBIT : 1B



NO.8 (HARGA 2.000.000,- 1PAKET DAPAT 2 SENJATA - PANJANG CLURIT 50cm & PISAU KERAMBIT 15cm) - CAKRAM MOBIL - MODEL 1B



NO.9 (HARGA 2.000.000,- 1PAKET DAPAT 2 SENJATA - PANJANG CLURIT 50cm & PISAU DAPUR 15cm) - CAKRAM MOBIL - MODEL 1A

NO. 10 GOLOK MADURA (HARGA Rp 1.600.000,- PANJANG 50cm & LEBAR 5cm) DARI CAKRAM MOBIL


NO. 11 BUKTI : BESI BILAH NYAMBUNG SAMPAI GAGANG-SEHINGGA TIDAK AKAN LEPAS/PUTUSNO.12 PISAU UDANG KHAS MADURA (HARGA 1.600.000,- PANJANG 50cm) - FULL CAKRAM
NO. 13 BUKTI : BESI BILAH NYAMBUNG SAMPAI GAGANG-SEHINGGA TIDAK AKAN LEPAS/PUTUS


NO.14 (HARGA 3.000.000,- PANJANG 100cm) - FULL CAKRAM

 NO.15 Celuk Madura Rp 3.000.000,- (Bahan Cakram Mobil) 1 meter


NO.16 Pedang Madura (HARGA 3.000.000,- PANJANG 100cm) - FULL CAKRAM  
 

 BENGKEL KAMI :

Arit, Celurit, atau Sabit adalah alat pertanian berupa pisau melengkung menyerupai bulan sabit. Meskipun memiliki bentuk yang sama; secara bahasa Arit cenderung bersifat sebagai alat pertanian, sedangkan Clurit lebih mengacu pada senjata tajam.
Clurit juga merupakan senjata khas dari suku Madura, Indonesia dan biasa digunakan sebagai senjata carok. Senjata ini sudah melegenda sebagai senjata yang biasa digunakan oleh tokoh yang bernama Sakera. 
celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.celurit,clurit,madura.
Clurit Madura
Clurit memang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura, Jawa Timur. Senjata tajam yang berbentuk melengkung ini begitu melegenda. Sejak dahulu kala hingga sekarang, hampir setiap orang di Tanah Air mengenal senjata khas etnis Madura ini. Saking populernya, clurit kerap diidentikkan dengan berbagai tindak kriminal. Bahkan celurit juga digunakan oleh massa saat terjadi kerusuhan maupun demonstrasi di pelosok Nusantara untuk menakuti lawannya.
Boleh jadi, begitu mendengar kata Madura, dalam benak sebagian orang bakal terbayang alam yang tandus, wajah yang keras dan perilaku menakutkan. Kesan itu seolah menjadi benar tatkala muncul kasus-kasus kekerasan yang menggunakan clurit dengan pelaku utamanya orang Madura.
Kendati demikian tak semua orang mengetahui sejarah dan proses sebuah clurit itu dibuat hingga dikenal luas. Di tempat asalnya, clurit pada mulanya hanyalah sebuah arit. Petani pun kerap menggunakan arit untuk menyabit rumput di ladang dan membuat pagar rumah. Dalam perkembangannya, arit itu diubah menjadi alat beladiri yang digunakan oleh rakyat jelata ketika menghadapi musuh.
Demikian pula pendapat D. Zawawi Imron. Seniman sekaligus budayawan Madura ini menuturkan, kalangan rakyat kecil memperlakukan clurit sebagai senjata tajam biasa. Dengan kata lain, clurit itu bukan dianggap senjata sakti.
Kini, masyarakat Madura masih memandang clurit sebagai senjata yang tak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Tak mengherankan, bila pusat kerajinan senjata tajam itu banyak bertebaran di Pulau Madura.
Tersebutlah sebuah desa kecil bernama Peterongan. Kampung ini terletak di Kecamatan Galis, sekitar 40 kilometer dari Kabupaten Bangkalan. Di sana, sebagian besar penduduk menggantungkan hidupnya sebagai pandai besi pembuat arit dan clurit. Keahlian mereka adalah warisan leluhur sejak ratusan tahun lampau.
Tak salah memang, bila desa ini menjadi kondang. Maklum, clurit buatan para perajin di Desa Peterongan itu dikenal kokoh dan halus pengerjaannya. Seorang di antara mereka adalah Salamun. Siang itu, lelaki berusia 54 tahun ini menemui Sunarto utusan dari sebuah padepokan silat terkenal di Kecamatan Kamal, Bangkalan.
Sunarto pun meminta Salamun mengerjakan sebilah clurit berjenis bulu ayam. Bagi Salamun, membuat clurit adalah bagian dari napas kehidupannya. Clurit tak hanya sekadar dimaknai sebagai benda tajam yang digunakan untuk melukai orang. Akan tetapi clurit adalah karya seni yang mesti dipertahankan dari warisan leluhurnya.
Pagi itu, Salamun didampingi putranya berbelanja membeli besi tua yang berada di sudut Desa Peterongan. Di antara tumpukan besi itu, Salamun memilih besi bekas rel kereta api dan per bekas jip sebagai bahan baku membuat celurit pesanan Sunarto.
Besi pilihan itu lantas dibawa menuju bengkel pandai besi miliknya yang berada tak jauh dari halaman rumahnya. Batangan besi tersebut kemudian dibelah dengan ditempa berkali-kali untuk mendapatkan lempengannya. Setelah memperoleh lempengan yang diinginkan, besi pipih itu lantas dipanaskan hingga mencapai titik derajat tertentu.
Logam yang telah membara itu lalu ditempa berulang kali sampai membentuk lengkungan clurit yang diinginkan. Dengan dibantu ketiga anaknya, Salamun membuat clurit pesanan padepokan silat tersebut dengan penuh ketelitian. Sebab dia memandang clurit harus mencirikan sebuah karya seni. Tak sekadar sepotong besi yang ditempa berkali kali, melainkan harus memiliki arti dan makna bagi yang memilikinya.
Lantaran itulah, sebelum mengerjakan sebilah clurit, Salamun biasa berpuasa terlebih dahulu. Bahkan saban tahun, tepatnya pada bulan Maulid, Salamun melakukan ritual kecil di bengkelnya. Menurut Salamun, ritual ini disertai sesajen berupa ayam panggang, nasi dan air bunga. Sesajen itu kemudian didoakan di musala. Baru setelah itu, air bunga disiramkan ke bantalan tempat menempa besi. &quotKalau ada yang melanggar (mengganggu), ia akan mendapatkan musibah sakit-sakitan,” ucap Salamun.
Hingga kini, tombuk atau bantalan menempa besi pantang dilangkahi terlebih diduduki oleh orang. Keahlian pak Salamun membuat clurit tak bisa dilepaskan dari warisan orang tua dan leluhur kakeknya. Semenjak kecil dirinya sudah dilibatkan cara membuat clurit yang benar.
Pria itu termasuk produktif. Betapa tidak, sudah ribuan clurit yang dihasilkan dari tempaan Salamun. Namun kini, Salamun lebih berhati-hati menerima pesanan clurit. Dia beralasan, banyak orang yang tak memahami filosofi clurit. Minimnya pemahaman inilah yang mengakibatkan clurit lebih banyak digunakan untuk tindak kejahatan.
Sebaliknya, bagi yang mengerti, clurit itu tentunya digunakan lebih berhati-hati. Pendapat itu memang beralasan. Soalnya clurit juga diartikan sebagai lambang ksatria. Dan, bukan malah untuk sembarang menyabet orang.
Di Madura, banyak dijumpai perguruan pencak silat yang mengajarkan cara menggunakan clurit. Satu di antaranya Padepokan Pencak Silat Joko Tole, pimpinan Hasanuddin Buchori. Perguruan ini mengambil nama dari seorang ksatria asal Sumenep. Kala itu Madura dibagi menjadi dua wilayah kerajaan besar, yaitu Madura Timur di Sumenep dan Madura Barat di Arosbaya Bangkalan. Adapun peninggalan Kerajaan Madura Barat masih terlihat dalam situs makam-makam kuno di Arosbaya.
Dan hari ini, perguruan yang banyak mengorbitkan atlet pencak silat nasional itu secara rutin berlatih meneruskan cita-cita dan semangat leluhurnya, Joko Tole. Padepokan Silat Joko Tole selama ini cukup kesohor di kalangan pencak silat di Tanah Air. Terutama dalam mengajarkan penggunaan senjata tradisional clurit.
Walaupun hanya sebuah benda mati, celurit memiliki beragam cara penggunaannya. Ini tergantung dari niat pemakainya. Di Perguruan Joko Tole, misalnya. Clurit tidak sekadar diajarkan untuk melumpuhkan lawan. Namun seorang pemain silat harus memiliki batin yang bersih dengan berlandaskan agama.
Sebagian masyarakat menganggap clurit tak bisa dipisahkan dari tradisi carok yang dianut oleh sebagian orang Madura. Sayang, hingga kini, belum satu pun peneliti yang bisa menjelaskan awal mula carok menjadi bagian hidup orang Madura. Yang terang, pada dasarnya carok biasa dilakukan ketika seseorang merasa dipermalukan dan harga dirinya dilecehkan. Maka, penyelesaian yang terhormat adalah dengan berduel secara ksatria satu lawan satu.
Latar belakang perkelahian seperti itu diakui Zawawi Imron. Budayawan ini menerangkan, ada adigium Madura yang mengatakan: Dibandingkan dengan putih mata lebih bagus putih tulang. Artinya, daripada hidup malu lebih baik mati. Dengan kata lain, ketika orang Madura dipermalukan, maka ia berbuat pembalasan dengan melakukan carok terhadap yang menghinanya itu.
Namun dalam perkembangannya, arti carok sendiri menjadi tidak jelas. Terutama bila dihubungkan dengan nyelep, yakni menyerang musuh dari belakang atau ketika lawan sedang lengah. Dan, hal itu semakin tidak jelas manakala banyak kasus kekerasan yang bermotifkan sosial ekonomi.
Jadi, untuk mengubah stereotip itu, orang Madura harus melawan kebodohan dan ketertinggalan. Ini seperti kerinduan budayawan sekaligus penyair Madura Zawawi Imron dalam puisi berjudul Clurit Emas: Bila musim melabuh hujan tak turun, kubasahi kau dengan denyutku. Bila dadamu kerontang, kubajak kau dengan tanduk logamku. Di atas bukit garam kunyalakan otakku. Lantaran aku tahu, akulah anak sulung yang sekaligus anak bungsumu. Aku berani mengejar ombak. Aku terbang memeluk bulan. Dan memetik bintang gemintang di ranting-ranting roh nenek moyangku. Di bubung langit kuucapkan sumpah. Madura, akulah darahmu.(ANS/Soedjatmoko dan Bambang Triono)
PISAU
Pisau ialah alat yang digunakan untuk memotong sebuah benda. Pisau terdiri dari dua bagian utama, yaitu bilah pisau dan gagang atau pegangan pisau. Bilah pisau terbuat dari logam pipih yang tepinya dibuat tajam; tepi yang tajam ini disebut mata pisau. Pegangan pisau umumnya berbentuk memanjang agar dapat digenggam dengan tangan.
Bentuk umum pisau mirip dengan pedang, bedanya adalah bahwa bilah pedang lebih panjang daripada bilah pisau.
Bila pisau terlalu kecil untuk memotong sesuatu, gergaji atau kapak mungkin diperlukan.(pisau-Wikipedia bahasa indonesia).

Daftar Senjata Tradisional Indonesia
Berikut ini nama – nama senjata tradisional dari berbagai daerah di Indonesia. Mungkin tulisan ini dapat sedikit membantu meskipun mungkin ada dari beberapa propinsi yang kurang lengkap dan sebagainya, sumber – sumber literatur sedang di gali lagi sehingga lebih lengkap.
  • Senjata Tradisional dari Provinsi DI Aceh – Nanggro Aceh Darussalam adalah Rencong
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Sumatera Utara – Sumut adalah Piso Surit, Piso Gaja Dompak
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Sumatera Barat – Sumbar adalah Karih, Ruduih, Piarit
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Riau adalah Pedang JenaWi, Badik Tumbuk Lado
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Jambi adalah Badik Tumbuk Lada
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Sumatera Selatan – Sumsel adalah Tombak Trisula
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Lampung adalah Terapang, Pehduk Payan
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Bengkulu adalah Kuduk, Badik, Rudus
  • Senjata Tradisional dari Provinsi DKI Jakarta adalah Badik, Parang, Golok
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Jawa Barat – Jabar adalah Kujang
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Jawa Tengah – Jateng adalah Keris
  • Senjata Tradisional dari Provinsi DI Yogyakarta – Jogja – Jogjakarta adalah Keris Jogja
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Jawa Timur – Jatim adalah Clurit
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Bali adalah Keris
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Nusa Tenggara Barat – NTB adalah Keris, Sampari, Sondi
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Nusa Tenggara Timur – NTT adalah Sundu
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Kalimantan Barat – Kalbar adalah Mandau
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Kalimantan Tengah – Kalteng adalah Mandau, Lunjuk Sumpit Randu
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Kalimantan Selatan – Kalsel adalah Keris, Bujak Beliung
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Kalimantan Timur – Kaltim adalah Mandau
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Sulawesi Utara – Sulut adalah Keris, Peda, Sabel
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Sulawesi Tengah – Sulteng adalah Pasatimpo
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Sulawesi Tenggara – Sultra adalah Keris
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Sulawesi Selatan – Sulsel adalah Badik
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Maluku adalah Parang Salawaki / Salawaku, Kalawai
  • Senjata Tradisional dari Provinsi Irian Jaya – Papua adalah Pisau Belati
(sumber"Arit-Wikipedia bahasa indonesia")
Dewasa ini adat istiadat dan kebudayaan khasanah bangsa Indonesia kurang mendapat tempat di kalangan kaum muda, disisi lain negeri tentangga suka jiplak menjiplak budaya kita , ironis memang !!!